EKONOMI

Naik harga BBM, tempe mahal
Jika jadi rencana kenaikan harga BBM diberlakukan, maka bisa meresahkan ratusan pengrajin tahu tempe di Kota/Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Sederhana saja, biaya produksi akan meningkat dan menurunkan daya jual tempe.

"Saat ini minat pembelian tempe dan tahu menurun hingga 15 persen dan jika naik harga BBM bisa berimbas kepada naiknya harga produksi tempe dan tahu," kata Manajer Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Kopti) Sukabumi, Muhammad Badar, kepada wartawan, Senin.

Dengan rencana kenaikan harga BBM ini ratusan pengrajin tahu dan tempe khawatir bisa memperburuk kondisi penghasilan mereka dan khawatir akan gulung tikar.

Berdasarkan data Kopti Sukabumi, jumlah pengrajin tahu tempe di Kota/Kabupaten Sukabumi mencapai 400 pengrajin Rinciannya, sebanyak 150 pengrajin di Kota Sukabumi dan sisanya terdapat di Kabupaten Sukabumi.

"Mayoritas para pengrajin tahu tempe di Sukabumi masih mengandalkan impor kedelai dari luar negeri atau sekitar 90 persen kedelai berasal dari impor dan 10 persen dari lokal," tambahnya.

Dari data pihaknya, harga kedelai impor mulai merangkak naik karena kini harga kedelai impor dijual Rp5.800 hingga Rp 5.900/kg yang sebelumnya kedelai impor hanya dijual Rp5.700/kg."Jika BBM naik akan menambah berat beban para pengrajin tahu dan tempe di Sukabumi, karena saat ini minat pembelian tempe dan tahu turun," kata Badar.(12/02/2012)Syamsul

Dua Opsi Kenaikan BBM, Pilih yang Mana?

VIVAnews - Pemerintah menyiapkan dua skenario kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi. Opsi pertama, harga BBM naik Rp1.500, sehingga menjadi Rp6.000 per liter. Sementara itu, opsi kedua, dipatok besaran subsidi Rp2.000 per liter.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Widjajono Partowidagdo, menuturkan, jika opsi pertama dipilih, penghematan subsidi diperkirakan mencapai Rp31,5 triliun.

"Kalau opsi kedua nggak tahu penghematannya berapa. Itu tergantung harga minyaknya," kata Widjajono di Istana Negara, Jakarta,(29/02/2012).

Meski begitu, dia mengatakan bahwa jika opsi kedua yang dipilih, anggaran subsidi pemerintah lebih terukur. Sebab, penghematannya jelas, yakni Rp2.000 per liter.
"Tapi, masalahnya, kalau ditanya berapa inflasinya, itu yang susah. Tapi, kalau penghematannya jelas. Penghematannya kan Rp2.000 setiap liternya. Jadi, lebih mudah, tinggal dihitung saja volume minyaknya," kata dia.

Menurut dia, dua opsi itulah yang nantinya akan dibahas bersama Dewan Perwakilan Rakyat. Pilih mana? "Menjaga inflasi, ya yang naik Rp1.500. Tapi, untuk subsidi yang jumlahnya lebih pas, ya yang Rp2.000," ujarnya.

 

Suku bunga bank ditentukan pasar
Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk Gatot M. Suwondo mengatakan, suku bunga kredit perbankan ditentukan pasar dan tidak bisa dikontrol.

"Suku bunga BI maupun suku bunga penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) adalah rujukan tapi tingkat suku bunga ditentukan pasar dan pasar tidak bisa dikontrol," katanya di Jakarta, Rabu, (15/02/2012).

Sebelumnya pada Kamis (09/02/2012), Bank Indonesia menurunkan suku bunga BI atau BI rate dari enam persen menjadi 5,75 persen. Pada Senin (13/02/2012), LPS juga menurunkan suku bunga dana masyarakat yang dijamin pemerintah untuk bank umum dari 6,5 persen menjadi 6 persen.

Sejumlah kalangan berharap dengan penurunan itu akan diikuti dengan penurunan bunga simpanan perbankan nasional sehingga menekan biaya dana dan pada akhirnya menurunkan bunga kredit.

Menurut Suwondo, sebaiknya referensi tersebut dihilangkan. "Bukan berarti kami tidak memikirkan menurunkan bunga, tapi yang terjadi sekarang industri terkendala biaya logistik karena infrastrukturnya kurang, itu yang perlu diperbaiki," tambah Gatot.

Ia menilai, bunga bukan menjadi satu-satunya penentu debitur meminta kredit ke bank.

"Sekarang yang diperlukan, aksesibilitas kredit bagi pengusaha yaitu kejelasan aliran kredit, bukan hanya bunga. Lagi pula barang dagangan bank adalah jasa, kualitas pelayanan juga menentukan keputusan nasabah," katanya. (Syamsul)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar